Salah satu topik yang sering bikin penasaran tapi juga sangat penting adalah: fungsi eksekutif. Kedengarannya kayak jabatan di perusahaan, ya?
Tapi sebenarnya ini soal kemampuan otak yang letaknya di belakang jidat, untuk ngatur berbagai tugas penting dalam hidup sehari-hari.
Apa Itu Fungsi Eksekutif?
Fungsi eksekutif adalah “software otak” yang bertugas buat hal-hal seperti:
Also Read
- Ngerencanain sesuatu
- Bikin keputusan
- Kontrol impuls
- Ingat-ingat hal penting
- Mulai (dan nyelesaiin) tugas
- Ngatur waktu
- Adaptasi saat situasi berubah
- Dan tentu saja… ngatur emosi!
Kalau anak punya tantangan dalam hal ini, jangan heran kalau kamarnya selalu kayak kapal pecah, tugas sering lupa dikumpulin, atau mereka butuh waktu lama banget buat mulai ngerjain sesuatu (apalagi nyelesainnya).
Tapi tenang, kabar baiknya: fungsi eksekutif itu skill, bukan bakat tetap. Artinya? Bisa dipelajari!
5 Tips Ngasuh Anak dengan Tantangan Fungsi Eksekutif
1. Cek Dulu: Ada Kondisi Khusus Nggak?
Anak nggak perlu ‘label’, tapi kadang tahu diagnosisnya bisa bantu semua pihak untuk tahu harus ngapain. Kalau ngerasa ada yang “nggak sesuai umur”, percayai insting. Bisa jadi waktunya konsul ke dokter anak, psikolog, atau ahli perkembangan anak.
2. Belajar Dulu Sebelum Ngeluh
Kalau orangtua paham kenapa anaknya bertingkah seperti itu, reaksi pun bisa berubah. Kadang, yang terlihat seperti “ngeyel” sebenarnya adalah otak anak yang lagi kesulitan memproses sesuatu.
Perilaku bukan selalu soal niat jahat, kadang cuma soal jalur sinyal di otak yang butuh waktu (dan bantuan).
3. Ajak Anak Ikut Paham Otaknya Sendiri
Setelah orangtua paham, waktunya ngajak anak ngobrol. Jelaskan dengan bahasa yang mereka ngerti:
- “Kamu punya otak yang unik, lho.”
- “Ada bagian yang perlu bantuan buat inget atau mulai sesuatu.”
- “Tapi kamu juga punya kekuatan hebat di sisi lain.”
Bikin ini jadi obrolan dua arah, bukan ceramah. Dengerin juga pendapat mereka, kekhawatiran mereka, dan ajak kerja sama cari solusi.
4. Atur Ekspektasi Sesuai Gaya Belajar
Udah paham pola pikir anak? Sekarang, saatnya sesuaikan cara menyampaikan ekspektasi. Misalnya:
- Buat daftar tugas yang bisa ditempel (visual)
- Ngomong langsung dan jelas (verbal)
- Ajak latihan bareng (kinestetik)
Tanyakan juga:
- Apa yang bantu mereka inget tugas?
- Apa yang bikin mereka kesulitan?
- Ekspektasinya udah cocok belum dengan usianya?
5. Rutin Itu Penting, Tapi Fleksibel Juga Harus
Anak-anak butuh rutinitas supaya otaknya nggak “capek mikir terus.” Tapi… jangan terlalu kaku juga, karena anak dengan tantangan fungsi eksekutif bisa jadi sangat terikat sama rutinitas, sampai-sampai kalau ada hal kecil yang berubah (kayak merek sereal), bisa bikin drama pagi hari.
Solusinya: bikin rutinitas plus latih otak anak buat terima perubahan kecil. Misalnya, sesekali ubah urutan kegiatan atau tawarin alternatif baru. Otaknya bakal belajar bahwa “nggak selalu harus sama, tapi tetap aman.”
Realita Jadi Orangtua: Kadang Nggak Seindah Kata Motivasi
Ngasuh anak dengan tantangan fungsi eksekutif itu bisa bikin stres, apalagi kalau di luar sana ada yang bilang, “Nikmati aja prosesnya, nanti juga kangen.” Ya, tapi sekarang mah yang ada pengen nangis duluan.
Nggak semua orangtua bisa parenting dengan cara yang sama, dan itu normal. Yang penting:
- Sabar sama diri sendiri
- Beri ruang buat anak belajar
- Tenangkan sistem saraf (alias: ambil napas dulu sebelum ngomel)
- Jangan ragu cari bantuan
Penutup
Anak-anak dengan tantangan fungsi eksekutif butuh orang dewasa yang nggak cuma cerewet, tapi juga ngerti. Dan orangtua seperti itu? Bisa dimulai dari kamu, yang baca ini sambil menahan diri biar nggak buka HP terus juga. 😄
Siap jadi pelatih terbaik buat “otak unik” anakmu?







