×

Kenapa Suami Gue Teriak-Teriak Mulu, Sih?

by

taiciken

Refreshed on

1 October, 2025

This post may content affiliate link

Suami teriak-teriak?

Buat dia, rasanya seperti lagi dijatuhin petir di ruang tamu. Bingung, takut, kesel, campur aduk. Kadang dia nanya ke diri sendiri, “Kenapa sih suami gue marah-marah mulu?” Tapi di saat yang sama, seolah-olah semua beban buat ngerti dan ngadepin perilaku itu malah jatuh ke pundaknya sendiri.

Padahal, yang marah-marah suaminya, tapi dia yang harus mikirin solusinya? Ya jelas capek mental.

Boleh Nggak, Sih, Suami Teriak ke Istri?

Jawabannya: nggak boleh.

Yelling atau teriak-teriak bukan cuma bikin suasana jadi nggak enak, tapi juga bisa jadi tanda bahaya alias red flag dalam hubungan.

Dalam dunia psikologi, kebiasaan marah-marah itu bisa nunjukin ada masalah yang lebih dalam entah soal emosi, komunikasi, atau trauma masa lalu. Dan yang jelas, ini bukan cara komunikasi yang sehat.

“Kok Gue yang Harus Ngejelasin Semua?”

Well, ternyata menurut riset, 80% masalah rumah tangga biasanya dibahas duluan sama perempuan. Iya, perempuan yang bawa obrolan soal masalah anak, rumah, kerjaan, bahkan kondisi hubungan itu sendiri.

Jadi, kalau dia merasa lelah karena kayaknya cuma dia yang mikirin semua ini… dia nggak sendirian. Ini berat. Dan jujur aja, nggak adil. Tapi itulah kenyataan yang dipengaruhi banyak faktor mulai dari budaya patriarki sampai ekspektasi sosial.

Tapi dia nggak nyari teori. Dia cuma pengen hubungan yang sehat, saling menghargai, saling ngerti, dan bisa jadi tempat pulang, bukan tempat ribut.

“Emangnya Wajar Ya, Teriak-Teriak dalam Pernikahan?”

Jawaban singkatnya: nggak.

Namanya rumah tangga, pasti ada konflik. Tapi konflik itu bisa diselesaikan tanpa perlu volume suara naik tiga level. Kalau tiap debat harus disertai dengan teriakan, berarti ada yang salah dengan cara komunikasinya.

Dan makin lama dibiarin, makin bikin hubungan penuh ketegangan dan rasa takut.

Yelling Itu Red Flag?

YES.

Teriak-teriak bisa jadi sinyal adanya masalah yang lebih dalam:

  • Emosi yang nggak tersalurkan dengan sehat
  • Nggak bisa komunikasi dengan baik
  • Bahkan, bisa mengarah ke abuse secara emosional

Kalau dibiarin, bisa merusak harga diri, bikin takut, dan merusak kepercayaan dalam hubungan.

Jadi, Apa yang Bisa Dia Lakuin?

1. Tenangin Diri Dulu (Self-Soothing & Break Time)

Waktu suasana mulai panas, langkah pertama: jangan langsung bales. Ambil napas. Kadang, pergi ke kamar mandi sebentar itu udah cukup buat ngeredain emosi. Yang penting, jangan terus muter-muter argumen di kepala itu malah bikin makin stres.

2. Gunakan “Soft Start-Up”

Daripada buka obrolan dengan, “Kamu tuh yaa, selalu aja…!”, mending pakai format yang lebih lembut kayak gini:

“Aku ngerasa sedih waktu kamu teriak kayak tadi. Aku butuh kamu buat ngobrolin ini dengan tenang.”

Cara ngomong yang empatik gini bikin suami lebih mungkin mau dengerin.

3. Pasang Batasan Sehat (Boundaries)

Batasan itu bukan buat ngubah pasangan, tapi buat melindungi diri sendiri. Misalnya:

“Kalau kamu mulai teriak, aku akan keluar dulu dari ruangan ini sampai kamu siap ngobrol dengan tenang.”

Bukan ngambek, tapi menjaga diri. Dan itu sah-sah aja.

4. Proses Setelah Bertengkar (Aftermath)

Setelah kejadian yang bikin nyesek, jangan langsung tutup buku. Coba obrolin ulang pas suasana udah adem.
Ngobrol soal:

  • Apa yang masing-masing rasain
  • Apa yang sebenernya dimaksud
  • Gimana biar kejadian kayak gitu nggak keulang

Biar sama-sama ngerti, bukan saling nyalahin.

“Kenapa Suami Gue Teriak-Teriak Terus, Sih?”

Nih, beberapa kemungkinan penyebabnya:

  • Lagi stres berat (kerjaan, finansial, dll.)
  • Punya luka masa lalu yang belum sembuh
  • Kurang sadar diri atau nggak punya self-care
  • Lagi ngalamin depresi atau gangguan mental
  • Nggak ngerti cara komunikasi yang sehat

Apapun alasannya, nggak ada alasan yang bisa jadi pembenaran buat teriak-teriak ke pasangan.

Perlu Bantuan Profesional? YES.

Kadang, ngobrol berdua aja nggak cukup. Dan nggak ada yang salah dengan cari bantuan. Konselor atau terapis bisa bantu lihat masalah dari sudut pandang netral, dan bantu cari solusi bareng-bareng.

Terapis juga bisa bantu bedain: ini masalah hubungan? Atau ada masalah individu yang perlu diberesin dulu?

Penutup

Dia berhak ada di hubungan yang aman, sehat, dan saling menghargai. Dan kalau itu belum ada sekarang, dia berhak juga buat cari cara menuju ke sana baik itu lewat komunikasi, batasan, atau minta bantuan profesional.

Karena jadi istri bukan berarti jadi tempat pelampiasan emosi.

Related Post

Leave a Comment