Pernah gak sih lagi debat ama pasangan, terus dia tiba-tiba diem aja? Bukan diem mikir, tapi diem kayak… Nggak mau diskusi .
Matanya ke layar HP, mukanya datar, respon nol. Nah, itu namanya stonewalling.
Stonewalling kuda terakhir dari the four horsemen yang bisa bikin hubungan berakhir.
Also Read
Kalau kritik adalah tembakan, contempt itu ledakan, dan defensiveness itu tameng yang malah nyerang balik, maka stonewalling adalah… jadi tembok.
Bukan buat merenung, tapi buat menghindar total.
Dan ini bukan hal sepele. Karena kalau udah sering terjadi, bisa jadi pola yang bikin pasangan ngerasa dicuekin, gak penting, atau gak layak didengerin.
Tapi tenang, di balik tembok selalu ada pintu. Yuk, kita bahas bareng!
Apa Itu Stonewalling?
Singkatnya, ini kondisi di mana seseorang menarik diri secara emosional pas lagi konflik. Bukan karena pengen tenangin suasana, tapi karena udah terlalu overwhelmed alias kebanjiran emosi sampai otak gak bisa mikir jernih lagi.
Ciri-cirinya bisa kayak:
- Tiba-tiba diam seribu bahasa
- Sibuk pura-pura ngerjain sesuatu
- Nunduk, gak mau kontak mata
- Fokus ke hal lain kayak ngelap meja 15 menit nonstop (padahal meja udah kinclong)
Orang yang stonewalling bukan berarti gak peduli. Justru karena terlalu kewalahan, mereka ngeluarin mode “shut down”. Jadi, daripada ribut, mereka off system duluan.
Kok Bisa Terjadi?
Biasanya ini muncul setelah tiga kuda sebelumnya (kritik, meremehkan, dan defensif) datang bertubi-tubi. Dan yang jadi korban adalah… otak dan jantung kita.
Secara fisiologis, saat emosi overload, tubuh ngeluarin reaksi “fight or flight” denyut jantung naik, napas gak teratur, pikiran muter-muter.
Akhirnya, otak bilang: “Yaudah, kita diem aja dulu biar gak makin parah.” Tapi sayangnya, bukannya menenangkan, sikap ini malah bisa bikin pasangan ngerasa ditolak dan sendirian.
Gimana Cara Ngehadepin Stonewalling?
Langkah pertama dan paling penting: STOP dulu. Ambil jeda.
Tapi bukan kabur seenaknya. Jeda ini harus:
- Disepakati bareng
- Punya kode atau sinyal netral (misal: bilang “timeout”, atau angkat dua tangan ala wasit futsal)
- Disampaikan dengan hormat
Tujuannya bukan untuk kabur, tapi untuk menenangkan diri. Karena saat udah terlalu emosi, lanjut debat itu kayak ngobrol sambil main mercon gak ada yang denger, semuanya cuma meledak-ledak.
Teknik Self-Soothing Biar Temboknya Luluh
Waktu kamu ambil jeda, jangan malah muter ulang drama di kepala. Tujuannya bukan buat makin emosi, tapi buat menurunkan volume emosi itu.
Berikut beberapa cara self-soothing yang bisa dicoba:
1. Bayangin Tempat Aman Versi Kamu
Tempat masa kecil, gunung, pantai, kamar kos yang damai apa pun yang bikin kamu ngerasa tenang. Beri waktu buat pikiran kamu rehat sejenak.
2. Atur Napas
Tarik napas dalam-dalam, buang pelan-pelan. Ulangi. Biasanya pas emosi, kita napas cepet atau bahkan nahan napas. Coba reset tubuh lewat napas.
3. Relaksasi Otot
Tegang di bahu? Kaku di leher? Coba kencangkan, lalu lemaskan. Ulangi beberapa kali sambil napas teratur.
4. Lakukan Hal yang Menenangkan
Dengerin lagu, jalan sebentar, baca buku lucu, atau ngelus kucing. Yang penting, alihkan dari topik ribut tadi dan bantu badan kamu pulih.
Menurut Verywell Mind, praktik kayak gini bisa bantu menurunkan tekanan emosi dan memperbaiki kualitas komunikasi.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Stonewalling?
Menariknya, ada rasio sakti yang disebut di beberapa riset, termasuk oleh Greater Good Science Center:
5 interaksi positif berbanding 1 negatif saat konflik, bisa bantu hubungan tetap sehat.
Artinya? Boleh ribut, asal tetap ada momen kasih sayang:
- Dengerin beneran
- Liat mata pasangan
- Beri anggukan atau senyum
- Pegang tangan, atau sekadar bilang, “Aku ngerti kamu kesel.”
Jangan tunggu suasana mencekam dulu baru pengen baikan. Momen-momen kecil yang positif ini justru bikin hubungan jadi punya “cadangan empati”.
FYI: Stonewalling Lebih Sering Dilakukan Laki-Laki
Dalam beberapa penelitian, laki-laki lebih sering masuk mode stonewalling. Sementara perempuan, cenderung tetap terlibat secara emosional meski suasana memanas.
Bahkan, ketika perempuan yang stonewalling, efeknya lebih drastis dan berpotensi lebih buruk untuk keberlangsungan hubungan (menurut studi The Gottman Institute).
Kenapa bisa gitu?
Karena tubuh laki-laki lebih cepat masuk mode fisiologis terancam saat konflik jadi mereka cenderung cari perlindungan lewat diam. Sayangnya, makin mereka diam, makin pasangan merasa dicuekin… dan makin kacau lah situasinya.
Singkatnya…
| Kondisi | Coba Lakukan |
|---|---|
| Pasangan tiba-tiba diem | Tahan untuk terus desak. Tanyakan pelan: “Kamu butuh waktu sebentar ya?” |
| Kamu sendiri mulai ngerasa overwhelmed | Pakai kode/jeda yang udah disepakati bareng. Ambil waktu untuk cool down. |
| Lagi break, tapi masih muter drama di kepala | Arahkan ke kegiatan yang nenangin. Fokus ke tubuh dan napas, bukan konflik. |
Akhir Kata
Gak semua konflik harus diselesaikan saat itu juga. Kadang, jeda adalah bagian dari solusi asalkan tujuannya jelas dan disepakati bareng.
Stonewalling bukan berarti kamu jahat atau pasangan kamu gak peduli. Tapi kalau jadi kebiasaan, ini bisa mengikis koneksi dan bikin hubungan jadi sunyi walau bareng.
Jadi, yuk mulai belajar kasih ruang saat butuh jeda, tapi tetap jaga koneksi.
Karena hubungan sehat bukan cuma soal gak bertengkar, tapi soal bisa balik saling denger dan dukung… bahkan setelah debat panjang.







