×

Katanya Aku Stonewalling?

by

taiciken

Refreshed on

1 October, 2025

This post may content affiliate link

Pernah nggak, seseorang (biasanya pasangan) bilang ke kamu:

“Kamu tuh stonewalling!”

Padahal kamu ngerasa nggak niat sama sekali buat nyakitin siapa-siapa. Kamu peduli, kamu sayang, dan kamu pengen banget bisa tanggepin dengan baik. Tapi… kadang otak rasanya nge-blank, mulut nggak bisa ngomong, dan tubuh kayak membeku.

Kok bisa?

Stonewalling Bukan Cuek, Tapi “Freeze Mode”

Banyak orang salah paham soal stonewalling. Di permukaan, memang kelihatan kayak lagi marah diem-diem, cuek bebek, atau acuh tak acuh. Tapi sebenarnya, ini adalah reaksi tubuh yang lagi panik total. Alias: kamu lagi flooded, kewalahan secara emosional dan fisik.

Ini bagian dari respons tubuh klasik: fight, flight, or freeze. Nah, si stonewaller ini biasanya masuk kategori “freeze”.

Contoh Kasus: Jimmy dan Keysa

Jimmy dan Keysa lagi ngobrol serius. Suasana mulai memanas.

Jimmy mulai nggak nyaman dan hatinya dag-dig-dug.
Keysa nanya, “Kamu mikir apa?”, “Kamu ngerasa gimana?”, “Kok diem?”
Jimmy malah makin panik. Mau jawab apa aja rasanya salah. Akhirnya… diem total.
Keysa jadi frustrasi dan makin ‘ketok pintu’ dengan pertanyaan-pertanyaan.
Jimmy makin membeku, makin takut salah ngomong.
Keysa ngerasa diabaikan dan sendirian.

Dari luar, ini mungkin kelihatan kayak Jimmy lagi stonewalling. Tapi sebenarnya, Jimmy lagi freeze. Otaknya nge-lock, bukan sengaja diam buat bikin Carson kesel.

Stonewalling Bukan Manipulatif — Ini Survival Mode

Kalau kamu pernah dibilang stonewalling, mungkin kamu adalah tipe yang kalau stres langsung “mati gaya”. Bukan karena kamu jahat. Tapi karena otakmu sedang mengira konflik itu bahaya besar.

Kata Dr. John Gottman, ada 3 hal penting soal stonewalling:

  1. Stonewalling itu beracun buat hubungan. Ini salah satu dari “Empat Penunggang Kuda” (Four Horsemen) pemusnah relasi, tapi…
  2. …bukan karena kamu keras kepala. Ini reaksi tubuh karena merasa dalam bahaya. Jantung bisa berdetak lebih dari 100 BPM, napas sesak, pikiran nge-blank.
  3. Tapi bisa dicegah. Dan bisa diatasi dengan cara yang sehat.

Tanda-Tanda Kamu Lagi “Flooded”

Kalau kamu mulai ngerasa begini, kemungkinan kamu udah masuk zona freeze:

  • Jantung mulai balapan
  • Napas jadi pendek-pendek
  • Susah dengerin orang lain
  • Bingung, susah nyusun kata
  • Nada suara makin tinggi atau ketus
  • Tubuh tegang
  • Rasa pengen “kabur” atau diem aja
  • Gigi ngertak, tangan mengepal
  • Kepala ringan atau mual
  • Wajah kayak kaku — rahang & alis tegang

Kalau udah begini, pause dulu. Jangan maksa lanjut debat.

Cara Menghentikan Siklus Stonewalling

1. Perhatiin Tubuh Sendiri

Kenali tanda-tanda awal kamu mulai ‘panas dalam’. Jangan tunggu sampe meledak.

2. Ambil Jeda dengan Sopan

Bilang ke pasanganmu dengan tenang:

“Aku pengen ngobrolin ini, tapi aku butuh break sebentar supaya bisa nanggepin dengan kepala dingin.”

Lalu, beneran ambil jeda. Jalan kaki, mandi, atau nonton video lucu bentar. Tapi jangan pakai waktu ini buat merancang serangan balik. Nanti tambah runyam.

3. Balik Lagi Setelah Tenang

Kalau kamu kabur tapi nggak balik, pasanganmu bakal ngerasa diabaikan. Jadi, usahakan balik setelah kira-kira 20 menit — ini waktu ideal buat self-soothing. Kalau bisa sadar lebih awal, jedanya juga bisa lebih singkat.

Penutup: Nggak Harus Jadi Drama

Ingat, stonewalling jadi berbahaya kalau dibiarkan. Tapi kalau kamu dan pasangan bisa belajar kenali tanda-tandanya, dan saling kasih ruang buat tenang, ini bisa jadi titik balik yang bikin hubungan makin sehat.

Toh, diamnya kamu bukan karena kamu nggak peduli.

Kadang, itu cuma cara otakmu bilang:

“Tolong, beri aku waktu sebentar buat bernapas.”

Dan kalau keduanya bisa saling ngerti…
Diem-diem bisa jadi awal komunikasi yang lebih dewasa.

Related Post

Leave a Comment