×

Cara Mengubah Sikap Meremehkan (Contempt) dalam Hubungan

by

taiciken

Refreshed on

1 October, 2025

This post may content affiliate link

Contempt alias sikap meremehkan adalah “asam sulfat dalam cinta.”

Dari keempat racun komunikasi (“The Four Horsemen”), contempt ini yang paling mematikan. Dan biasanya, yang jadi korban sih langsung sadar karena rasanya nyesek, panas, dan menyayat harga diri.

Tapi… Nggak Semua Contempt Itu Jelas dan Kasar

Ada contempt yang brutal dan sengaja: kayak yang ditampilin di film Who’s Afraid of Virginia Woolf? gimana dua tokoh saling hancurin jiwa satu sama lain pakai kata-kata pedas beracun.

Kalau yang kayak gitu, pelaku contempt-nya tahu persis apa yang mereka lakukan dan mereka nggak niat berhenti. Itu udah masuk wilayah kekerasan emosional.

Tapi yang dibahas di sini bukan contempt sadis kayak begitu. Tapi yang ini lebih halus, lebih ‘nggak kerasa’, tapi tetap nyakitin. Dan kabar baiknya: yang ini bisa diubah.

Contempt Halus: Tanda-Tanda yang Sering Nggak Disadari

Contempt versi kalem ini bisa muncul dalam bentuk:

  • Nada moral tinggi, misalnya:
    “Aku nggak akan pernah ngelakuin itu ke kamu.”
    (artinya: aku lebih dewasa, lebih baik, lebih manusia)
  • Balasan penuh sindiran, kayak:
    “Kalau aku yang ngelakuin itu ke kamu, gimana?”
    (sering dibumbui dengan nada atau mimik sarkasme)
  • Ceramah ala guru besar:
    “Ya ampun, siapa juga yang bakal ngelakuin hal sebodoh itu?”
    (alias: kamu kekanak-kanakan, aku dewasa dan masuk akal)

Kedengerannya kayak “jujur”, tapi sebenernya… itu contempt.

Kenapa Bisa Muncul Contempt?

Biasanya, orang yang melontarkan contempt nggak berniat jahat. Mereka bukan penjahat. Mereka cuma… putus asa.

Contempt sering muncul sebagai bentuk “melawan” karena ngerasa dilangkahi, disakiti, atau nggak dihargai.
Contempt itu kayak teriakan batin:

“Aku juga punya harga diri, lho! Jangan seenaknya!”

Tapi sayangnya, bukannya ngajak pasangan kerja sama, contempt malah bikin pasangan jadi musuh.

Contempt Itu Terasa “Tulus” Padahal Nggak

Banyak orang yang ngerasa contempt itu adalah bentuk kejujuran.

“Aku cuma bilang yang sebenarnya aja kok.”
Padahal? Yang keluar tuh bukan perasaan asli, tapi penilaian negatif.

Dan anehnya, kalau ditahan pun tetap keluar:

  • lewat tatapan mata sinis,
  • bibir yang dikatup kenceng,
  • atau mata yang muter kayak roller coaster.

Kalau kamu merasakan contempt, biasanya kamu menunjukkannya, walau tanpa sadar.

Jadi, Gimana Cara Menghentikannya?

Kalau contempt nggak bisa sekadar ditahan, harus diganti dengan sesuatu. Tapi diganti sama apa?

Kamu bisa ganti dengan apresiasi. Tapi pas lagi panas-panasnya ngomong apresiasi bisa kerasa palsu. Kayak disuruh bilang “makasih” waktu lagi pengen banting pintu.

Maka solusinya bukan pura-pura manis. Tapi:

Ekspresikan perasaan dan keinginan kamu. Dengan jujur, tapi nggak nyerang.

Contempt bukan tentang “perasaan”, tapi tentang “penilaian”. Kalau mau beneran jujur, ungkapin emosi asli dan keinginan tulus kamu.

Contoh Perubahan Contempt Jadi Komunikasi Sehat:

“Liat deh kamu, bikin sarapan sendirian, nggak nawarin aku! Dasar egois!”
“Aku kangen waktu kita biasa sarapan bareng. Tadi pagi aku ngerasa kesepian.”

“Nyetir kamu tuh kayak orang gila! Bisa nggak sih kayak aku, yang bertanggung jawab?!”
“Aku ngerasa takut waktu kamu nyetir ngebut. Aku tahu kamu waspada, tapi aku tetap khawatir. Bisa kita omongin ini nanti, bukan di mobil?”

“Telat lagi! Orang yang telat itu nyebelin. Tapi ya udah biasa buat kamu kan…”
“Kamu tahu aku suka kesal kalau nunggu. Aku nggak butuh kamu jadi sempurna, tapi aku pengen tahu kamu lagi usaha buat lebih tepat waktu.”

“Serius kamu ‘lupa’ ada kelas parenting? Aku nggak pernah kayak gitu ke kamu!”
“Aku sendiri juga kadang suka lupa hal penting. Tapi tadi aku ngerasa malu dateng sendirian. Aku butuh kamu minta maaf.”

“Masih bahas itu juga? Udah enam tahun lalu! Kenapa nggak ke psikolog aja sih?”
“Aku agak bingung ini muncul lagi, dan aku merasa nggak enak. Kayaknya ini luka lama yang belum sembuh. Bisa cerita kenapa kamu kepikiran soal itu sekarang?”

Kunci Utamanya:

Ubah “menyerang” jadi “mengungkapkan”.

Gunakan pola:

  • “Aku ngerasa…” (sedih, marah, kesepian, takut, dll.)
  • “Aku pengen…” (keinginan atau kebutuhan kamu)
  • Tambahkan undangan: “Menurut kamu gimana?”
    “Boleh kita ngobrolin ini?”

Penutup

Begitu kamu paham kenapa contempt muncul, kamu bisa berhenti sebelum merusak hubungan. Bukan dengan menahan emosi, tapi dengan menyuarakan isi hati yang sebenarnya.

Dan di situlah letak integritas.

Related Post

Leave a Comment