×

Berantem Terus Bisa Ngerusak Hubungan? Iya, Kalau Gak Tau Cara Berdamai

by

taiciken

Refreshed on

1 October, 2025

This post may content affiliate link

Namanya juga hubungan, pasti ada konflik. Tapi kalau tiap minggu berantem, apalagi topiknya itu-itu aja, lama-lama bisa bikin hubungan kerasa kayak drama series yang gak ada ending-nya.

Berantem sesekali itu sehat, tapi kalau udah masuk siklus ribut terus, bisa bikin hubungan makin renggang. Dan kalau gak diatasi, bisa-bisa cinta yang dulu bikin berbunga-bunga malah layu karena capek batin.

Awal Mula Siklus Pertengkaran

Waktu pacaran kita merasa klik banget. Fokus ke kesamaan, bukan perbedaan. Kayaknya semua cocok, saking cocoknya memilih nikah cepet-cepet tanpa sempet ngobrolin hal penting kayak keuangan, pola asuh, atau latar belakang keluarga.

Masalah mulai muncul waktu punya anak. Tekanan finansial naik, pola asuh beda, dan… boom! Perbedaan jadi bahan bakar pertengkaran.

Istri ingin punya rumah cepat-cepat. Sementara suami ngerasa udah kerja keras, masa gak boleh jajan, makan enak, atau liburan?

Hasilnya jadi langganan ribut. Dan makin lama, makin banyak konflik ikutan muncul, dari parenting sampai tempat tidur (literally).

Emotional Baggage = Pemicu Terselubung

Sebenernya, banyak pasangan yang sering ribut tuh karena ada “bagasi emosional” alias luka lama yang belum kelar. Jadi, pas ada pemicu kecil, langsung meledak.

Contoh:

  • Istri tumbuh di keluarga yang pas-pasan, jadi dia parno soal keuangan.
  • Suami sering dikritik ayahnya yang super hemat, jadi pas Karen ngomel soal uang, dia ngerasa diserang pribadi.

Lama-lama, rasa cinta yang dulu kuat, ketutup sama rasa kesal dan kecewa. Dan tiap berantem, bukannya nyari solusi, malah saling serang.

Istri bilang, “Pas Suami bilang aku selalu pengen menang, aku langsung defensif dan nyerang balik. Ujung-ujungnya jadi saling hina, dan semua jadi jelek.”

Kenali Dulu: Apa Pemicu Kamu?

Langkah pertama buat berhenti berantem terus: kenali trigger masing-masing. Alias, tombol rahasia yang bikin kamu langsung emosi jiwa.

Coba ajak pasangan ngobrol soal “hot button” kalian. Misalnya:

  • Kamu ngerasa langsung panas tiap kali ngobrolin uang?
  • Atau kesel banget kalau dia gak kasih perhatian?

Dengan kenal pemicu, kamu bisa pause dulu sebelum meledak.

Contohnya, begitu sadar bahwa ketakutannya soal keuangan cuma karena trauma masa kecil (padahal kondisi finansial sebenernya aman-aman aja), bisa ngomong lebih tenang ke pasangan.

Akhirnya kompromi: jajan keluar cukup dua kali sebulan, gak perlu tiap minggu.

Intinya, konflik biasanya muncul karena kebutuhan emosional yang gak terpenuhi, kayak:

  • Butuh merasa aman
  • Ingin dihargai
  • Pengen punya kontrol
  • Merasa dicintai atau diterima

Kenapa Sih Pertengkaran Bisa Makin Panas?

Dalam buku Fighting for Your Marriage, eskalasi itu terjadi ketika dua orang terus lempar komentar negatif secara bolak-balik. Emosi naik, dan bukan cuma marah, tapi mulai muncul komentar jahat bahkan penghinaan.

Marah itu wajar, tapi bahaya muncul saat udah masuk ke tahap contempt alias meremehkan. Di sinilah kerusakan paling parah bisa terjadi.

Contempt itu bukan cuma kritik, tapi kritik dari posisi merasa lebih baik. Kayak:

“Kamu tuh gak becus jadi orang tua”

Bukan cuma menyindir, tapi menjatuhkan harga diri pasangan.

Hubungan yang didominasi empat pola komunikasi negatif ini paling rentan rusak:

  1. Criticism (ngomel terus)
  2. Defensiveness (bela diri terus)
  3. Stonewalling (cuek/bisu)
  4. Contempt (meremehkan)

Yang paling merusak? Contempt. Kalau udah sering muncul, itu tanda bahaya merah berkedip-kedip.

Tapi Emangnya Berantem Bisa Sehat? Bisa Banget!

Berantem itu normal. Yang penting, kamu dan pasangan belajar gimana caranya berdamai dan ngobrol setelahnya.

Kunci dari hubungan yang sehat bukan soal gak pernah bertengkar, tapi soal skill buat memperbaiki hubungan setelah konflik.

Misalnya:

  • “Maaf ya, tadi aku terlalu keras”
  • Pelukan pas pasangan mulai menangis
  • Jokes kecil buat mencairkan suasana

Masalahnya, banyak pasangan yang kelewat momen repair ini karena udah terlalu larut dalam amarah. Makanya, belajar kenal momen ini penting banget.

Kalau kalian bisa pakai konflik sebagai cara untuk saling memahami, bukan saling menyakiti.

Buka obrolan, lurusin miskomunikasi, dan perbaiki luka-luka kecil sebelum jadi luka besar.

Apa yang Terjadi Kalau Siklus Ini Gak Diubah?

Kalau dibiarkan, konflik yang berulang bisa bikin hubungan jadi hubungan kerja sama bisnis doang. Udah gak ada koneksi, gak ada tawa, cuma rutinitas dan sindiran.

Tapi kalau belajar nyelesaiin konflik, hubungan justru bisa makin kuat.

Penutup

Berantem gak selalu buruk. Yang bikin buruk itu caranya. Kalau tiap konflik berubah jadi ajang saling menyindir, saling membela diri, dan balas-balasan, ya hubungan pasti kena dampaknya.

Tapi kalau bisa belajar dari konflik, kenapa kamu marah, kenapa pasangan tersinggung, dan gimana memperbaikinya itu justru bikin hubungan makin dewasa.

Hubungan yang sehat itu bukan hubungan yang gak pernah ribut. Tapi hubungan yang tahu cara bangkit lagi setelah ribut.

Related Post

Leave a Comment