×

Bahaya Sikap Merendahkan dalam Hubungan: Penyebab Utama Perceraian

by

taiciken

Refreshed on

2 October, 2025

This post may content affiliate link

Kalau kritik itu kayak nyentil, contempt alias merendahkan tuh udah kayak ngelempar mic dari atas panggung.

Ini bukan cuma nyakitin, tapi bisa pelan-pelan ngerusak hubungan dari dalam kayak karat di besi yang awalnya nggak keliatan, tapi lama-lama bikin patah juga.

Menurut beberapa riset terpercaya seperti penelitian panjang dari Gottman Institute, perilaku contempt ini jadi salah satu tanda paling kuat kalau hubungan udah masuk zona merah. Dan ya, ini seringkali jadi alasan nomor satu dari perpisahan.

Tapi tenang, seperti kata pepatah: “Semua masalah pasti ada jalan keluarnya.” Termasuk yang satu ini asal kita tahu cara menghadapinya.

Apa Itu Contempt dan Kenapa Bahaya Banget?

Contempt itu bukan cuma marah. Dia udah naik level ke ngeliat pasangan dengan rasa muak dan merasa diri lebih baik.

Ciri-cirinya bisa macem-macem, mulai dari:

  • Ngejek dengan nada sinis,
  • Nge-roll mata kayak atlet senam,
  • Ngeledek pake sarkasme,
  • Ngomong dengan nada “aku lebih waras dari kamu,”
  • Sampai ngeluarin kalimat yang… ya, ngiris hati.

Misalnya:

  • “Aku sih udah bisa baca jam dari TK, kamu kapan?”
  • “Kita gak pernah ngapa-ngapain karena kamu lebih sibuk tebar pesona ke orang kantor tuh.”

Kalau udah begini, itu bukan cuma komunikasi yang rusak, tapi juga rasa hormat yang mulai menguap. Dan menurut beberapa studi, contempt bisa bikin dampak fisik lho. Pasangan yang sering saling merendahkan ternyata lebih gampang kena flu dan stres kronis. Serem ya?

Kenapa Contempt Sering Muncul?

Biasanya sih, contempt nggak muncul tiba-tiba. Ini hasil dari:

  • Kecewa yang dipendam bertahun-tahun,
  • Harapan yang nggak tersampaikan,
  • Dan… kurangnya penghargaan kecil sehari-hari.

Lama-lama, tanpa sadar, kita mulai biasa ngomong:

“Aku capek terus dia cuek. Emang dasar dia tuh selfish.”

Nah, skrip ini yang bikin kita makin gampang nyentil, nyindir, sampai ngegas pas pasangan salah sedikit.

Gimana Cara Ngadepin Contempt?

Untungnya, walau contempt itu “the worst of the horsemen”, masih ada cara buat ngerem laju kerusakannya.

Ubah “Nyindir” Jadi “Nyampein Perasaan”

Kalau kamu lagi kesel dan pengen ngedumel, coba tarik napas dulu dan ubah pendekatannya.
Alih-alih nembak pake “kamu tuh selalu…” coba ganti dengan:

  • “Aku lagi ngerasa…”
  • “Aku butuh…”

Contohnya:

“Kita nggak pernah deket lagi. Kamu tuh ngelupain aku.”
Ganti jadi: “Aku ngerasa kesepian akhir-akhir ini. Aku butuh lebih banyak waktu berdua sama kamu.”

Atau:

“Kamu tuh nggak pernah on time. Nyebelin banget.”
Coba: “Aku tipe orang yang suka datang tepat waktu. Bisa gak kita sama-sama usaha buat itu?”

Kelihatannya remeh ya, tapi pendekatan ini bisa bantu komunikasi kamu jadi lebih sehat dan gak bikin pasangan langsung naik pitam.

Cara ini dikenal juga sebagai nonviolent communication dan udah banyak dibahas dalam literatur psikologi hubungan sehat, kayak di Center for Nonviolent Communication.

Bangun Kebiasaan “Saling Kagum”

Ini dia obat yang lebih dalam: membangun rasa saling menghargai dan mengagumi satu sama lain.

Gak harus puitis atau penuh bunga. Bisa sesederhana:

  • Bilang “makasih” tiap dia bantuin hal kecil,
  • Ngasih pelukan pas dia lagi capek,
  • Atau sekadar ngingetin hal lucu dari masa awal pacaran.

Menurut berbagai penelitian psikologi hubungan, pasangan yang sering menghargai hal kecil satu sama lain, cenderung lebih tahan banting saat konflik datang.

Tips praktis yang bisa dicoba:

  • Kasih pujian kecil tiap hari (walau cuma: “Kamu keren deh hari ini”).
  • Luangkan waktu buat ngobrol ringan tanpa bahas masalah.
  • Flashback bareng ke momen-momen seru dalam hubungan kalian.

Kenangan positif itu kayak vitamin. Kalau dikonsumsi rutin, bisa ningkatin “imunitas” hubungan kamu dari toxic vibes kayak contempt ini.

Tujuan Akhir: Solidarity dan “We-ness”

Semakin sering kamu dan pasangan saling menghargai, semakin kuat rasa “kita satu tim” dalam hubungan.

Yang tadinya suka nyinyir bisa berubah jadi suportif. Yang dulunya ngejek bisa jadi pelindung. Yang sering kesel, mulai lebih pengertian.

Dan walaupun kita tahu gak ada hubungan yang 100% adem ayem, punya “fondasi kekaguman” ini bisa bantu kalian tetap saling percaya, bahkan pas lagi gak sepakat.

Singkatnya…

ContemptObat
Mikir “gue lebih baik dari dia.”Ubah jadi “kita sama-sama belajar jadi lebih baik.”
Ngejek, nyinyir, atau sinis.Saling apresiasi tiap hari.
Ngerendahin pasangan secara halus.Mulai dengan jujur soal perasaan dan kebutuhan.
Kenangan pahitFlashback ke momen manis

Akhir Kata

Hubungan itu kayak tanaman. Kalau tiap hari disiram dengan sindiran dan rasa jijik… ya wajar kalau akhirnya layu.

Tapi kalau tiap hari disiram dengan pujian kecil, rasa hormat, dan niat baik… kemungkinan besar dia bisa tumbuh sehat.

Ingat, artikel ini bukan resep instan buat hubungan ideal. Tapi semoga bisa jadi pengingat bahwa memperbaiki hubungan gak selalu butuh drama besar kadang cukup mulai dari obrolan jujur dan satu senyum tulus.

Karena kadang, yang kamu butuh bukan pelampiasan… tapi perhatian.

Related Post

Leave a Comment