×

Cara Menghadapi Pasangan yang Pasif-Agresif

by

taiciken

Refreshed on

1 October, 2025

This post may content affiliate link

Dia orang yang suka komunikasi jujur, to the point, dan transparan. Makanya, tiap kali pasangannya ngambek tapi bilang, “aku nggak apa-apa kok,” darahnya mendidih. Lebih parah lagi kalau dapet senyuman manis yang dinginnya kayak kulkas, atau denger kalimat pujian yang terdengar kayak… sindiran.

“Wah, kamu masaknya makin kreatif ya. Rasanya unik banget.”
(Padahal dalam hati: Ini enak atau dimakan karena kasihan?)

Ini dia yang disebut perilaku pasif-agresif. Terdengar ramah, tapi sebenarnya sedang “menusuk dari dalam senyum.”

Pasif-Agresif vs Menghindari Konflik: Beda Tipis, Tapi Dampaknya Besar

Orang punya gaya berbeda dalam menghadapi konflik. Ada yang suka membahas dan validasi perasaan (gaya Validating), ada juga yang lebih memilih diam demi menjaga ketenangan (gaya Avoiding).

Dua-duanya sah-sah aja, asalkan dilakukan dengan sehat. Tapi masalahnya muncul kalau gaya “menghindari konflik” ini kebablasan. Lama-lama, emosi yang dipendam bisa bocor lewat komentar sinis, nada datar, atau senyuman yang nggak tulus. Dan… jadilah pasif-agresif.

Ciri-Ciri Pasangan Pasif-Agresif

(Atau setidaknya, lagi pasif-agresif ke kamu sekarang)

  • Perasaan kamu bilang: “Dia kesel deh.” Tapi dia bilang: “Nggak kok, aku cuma capek.”
  • Dia ngelucu, tapi kamu nggak ngerasa itu lucu. Malah nyelekit.
  • Ucapan manisnya terasa seperti pakai topeng.
  • Kamu mulai curiga dia ngomongin kamu di belakang.
  • Kamu mulai mikir: “Aku terlalu sensitif ya?” Padahal… enggak, kamu waras kok.

Kalau tanda-tanda ini muncul dan bikin kamu nggak tenang, mending diomongin. Jangan disimpan, nanti meledak.

Langkah-Langkah Hadapi Pasif-Agresif Tanpa Drama

1. Pilih Waktu & Tempat yang Aman dan Nyaman

Jangan mulai saat emosi masih panas atau pas lagi buru-buru. Pastikan dua-duanya tenang dan nggak terdistraksi.

2. Gunakan “Gentle Startup”

Bukan langsung nyerang, tapi pakai rumus:

“Aku merasa [perasaan] tentang [hal yang terjadi], dan aku butuh [kebutuhan kamu].”

Contoh:

“Aku merasa bingung dan agak tersinggung tentang candaan kamu soal masakanku. Aku butuh kamu ngomong langsung aja kalau lagi kesel, supaya aku bisa ngerti dan kita bisa ngobrolin baik-baik.”

3. Kalau Dia Bilang ‘Cuma Bercanda’?

Jangan langsung nyolot: “Yakin cuma bercanda?!”
Tetap tenang. Bilang aja:

“Oke, mungkin kamu nggak maksud nyakitin, tapi buatku itu nggak lucu dan aku jadi ngerasa nggak nyaman.”

Fokus tetap di perasaan kamu, bukan nyalahin dia.

Ingat: Pasif-Agresif Itu Kamuflase Emosi

Perilaku ini tricky karena kelihatannya ‘biasa aja’ dari luar, tapi bisa nyakitin dalam diam. Jadi daripada sibuk ngebahas topik konflik yang memicu, lebih baik bahas cara komunikasi yang bikin hubungan nggak sehat itu sendiri.

Karena kalau nggak dihadapi, hubungan bisa jadi arena kode-kodean forever. Dan siapa sih yang kuat hidup bareng sama “emoji mata melirik” tiap hari?

Penutup

Kalau dia pasif-agresif, bukan berarti kamu harus agresif balik. Tetap dewasa, tetap elegan. Tapi juga jangan diem dan pura-pura nggak ngerasa apa-apa. Kamu boleh (dan harus) bicara.

Karena hubungan yang sehat itu bukan bebas konflik, tapi bebas drama tidak perlu termasuk yang dikemas dalam bentuk pujian manis tapi menyakitkan.

Related Post

Leave a Comment