Ternyata, hubungan romantis bisa “di-sabotase” oleh pola keterikatan dari masa kecil.
Pernah nggak sih, ketemu pasangan yang kayaknya dingin banget, susah diajak ngobrol soal perasaan? Atau malah kebalikannya, nempel terus 24/7 sampai bikin capek mental?
Setelah mengalami satu-dua hubungan seperti itu, banyak orang mulai mikir:
Also Read
Apa jangan-jangan aku yang rusak?”
Eits, jangan buru-buru nyalahin diri sendiri. Bisa jadi ini soal attachment style alias gaya keterikatan, sebuah teori psikologi yang udah lama jadi andalan para ahli buat memahami kenapa kita bisa jatuh cinta… dan patah hati.
Apa Itu Attachment Style?
Menurut Attachment Theory, cara kita menjalin hubungan saat dewasa itu dipengaruhi banget sama hubungan kita dengan pengasuh utama waktu kecil, biasanya orang tua.
Kalau waktu kecil kebutuhan emosional dan fisik kita terpenuhi, kita tumbuh jadi orang yang merasa aman dalam hubungan. Tapi kalau sebaliknya? Ya siap-siap aja punya “pola cinta” yang agak bikin ribet sendiri.
Dalam hubungan dewasa, pasangan romantis jadi kayak “pengganti” figur pengasuh masa kecil. Jadi, wajar aja kalau kita baper atau “terpicu” secara emosional oleh hal-hal kecil dari pasangan, karena itu nunjukin cara kerja sistem keterikatan kita.
Gaya Keterikatan: Kamu Termasuk yang Mana?
Ada 4 tipe utama attachment style yang biasanya muncul dalam hubungan dewasa:
1. Secure (Aman)
- Tumbuh dengan pengasuh yang hadir dan responsif
- Percaya diri dalam hubungan
- Bisa dekat tanpa nempel terus, dan bisa mandiri tanpa menjauh
- Dalam hubungan: nyaman, stabil, gak drama
2. Anxious (Cemas / Clingy)
- Tumbuh dengan pengasuh yang nggak konsisten—kadang sayang, kadang cuek
- Dewasa jadi overthinking dan takut ditinggal
- Sering nanya: “Kamu masih sayang aku, kan?” (tiap 5 menit)
3. Avoidant (Menjauh / Dingin)
- Tumbuh dengan pengasuh yang cuek banget
- Belajar mandiri sejak kecil (tapi dalam artian: “gak ada yang bantu, jadi harus sendiri”)
- Di hubungan: susah buka diri, terkesan dingin, “gue gak butuh siapa-siapa”
4. Disorganized (Kacau / Campur Aduk)
- Tumbuh dalam lingkungan yang penuh trauma, kekerasan, atau kekacauan
- Bingung antara mau dekat atau menjauh, karena cinta dan bahaya pernah datang dari orang yang sama
- Dalam hubungan: emosinya naik-turun, gak stabil, kadang jadi toxic banget.
Terus… Bisa Diubah Gak Sih?
Jawabannya: BISA! Tapi… butuh usaha.
Gaya keterikatan itu bukan vonis seumur hidup. Dengan kesadaran diri dan bantuan yang tepat (kayak terapi), siapa pun bisa belajar menjadi lebih “secure”.
Kuncinya ada di:
- Kenali pola hubunganmu
- Sadari apakah kamu memilih pasangan karena “chemistry” atau cuma karena “familiar” (alias trauma lama yang keulang lagi)
- Pilih pasangan yang punya gaya keterikatan yang aman
- Berani healing dan keluar dari pola lama yang menyabotase hubungan.
Faktanya, banyak orang justru salah mengartikan kenyamanan dalam hubungan sebagai cinta—padahal itu cuma karena otaknya bilang:
“Eh, ini kayak masa kecil kita, nih. Ayo kita ulang!”
Padahal… belum tentu sehat.
Rekomendasi Buku (Buat yang Pengen Ngulik Lebih Dalam):
📘 Attached – Amir Levine
Belajar soal tiga gaya keterikatan dan gimana caranya break the cycle biar hubungan jadi lebih sehat.
📘 What Makes Love Last – Dr. John Gottman
Bahas pentingnya kepercayaan dan koneksi emosional dalam hubungan jangka panjang.
📘 Wired for Dating – Stan Tatkin
Tips menghindari jebakan emosional waktu pacaran dan menemukan pasangan yang cocok dari sisi otak dan hati.
📘 Your Brain on Love – Stan Tatkin
Ngulik soal otak, emosi, dan gimana cara mencintai pasangan yang “susah banget diajak deket”.
📘 Hold Me Tight – Dr. Sue Johnson
Tujuh percakapan penting buat membangun hubungan yang lebih aman dan penuh cinta.
Penutup
Kalau gaya keterikatanmu berantakan, hubunganmu ikut-ikutan berantakan.
Tapi kabar baiknya: kamu bisa re-write cerita cintamu.
Pahami dirimu. Pilih pasangan dengan sadar. Dan jangan ragu minta bantuan kalau perlu. Karena cinta yang sehat itu bukan soal seberapa intense, tapi seberapa aman kamu merasa saat bersamanya.






